Monday, November 10, 2008
Jalan Pikiran
Minggu lalu, saya diajak Mas Gomanx berkunjung ke salah satu temannya dalam rangka boyongan alias pindah rumah. Dalam perjalanan, saya bilang ke Mas Gomanx konteks bercanda 'wah, sama ibu-ibu nih..' dengan tertawa-tawa. Sesampai disana, benar juga perkiraan saya hampir sebagian besar mereka beristri dan membawa anak. Sebenarnya, kumpul dengan emak-emak hal yang sudah biasa buat saya, karena sebagian besar teman-teman dikantor adalah wanita berumur alias emak-emak.Ketika saya ingin sholat dzuhur, saya yang dari tadi di luar berkumpul dengan para suami dan tentu saja anak-anaknya yang lucu-lucu menuju ke dalam. Samar-samar terdengar celotehan ibu-ibu, sampai akhirnya setelah sholat saya memutuskan untuk kembali ke luar karena merasa tidak ada obrolan yang mesti direspon.
Sesampainya di luar, Mas Gomanx bilang kenapa saya di luar, bukankah sebaiknya saya di dalam bersama'komunitas saya'. Baiklah...
Dalam perjalanan pulang saya berterus terang kalau saya tidak ingin 'memaksakan' diri berbasa-basi. Karena obrolannya sama sekali bukan kapasitas saya. Seperti soal uneg-uneg mereka soal dokter anak atau susu paling mahal. Saya memahami kalau mereka bukan tipikal 'who earn money' tapi lebih ke 'who consume money'. Jadi wajar saja kalau topik pembicaraan mereka seperti itu. Padahal, kalau mereka tahu, betapa kami -saya dan suami-suami mereka- tidak semudah jaman Orde Baru dulu dalam proyek-proyek diluar gaji. Jaman jahiliyah sudah berlalu, malah saya bertanya jika tiba-tiba suami saya nanti membawa uang segepok tanpa tahu darimana asalnya, bukannya ribut soal 'Metro Big Sale'. Mas Gomanx bilang dalam hal ini, mungkin pemikiran mereka belum sampai kesana, agak menghibur saya sih meskipun saya curiga ini bagian dari kenarsisannya :D
Labels: touchy thigs


0 Comments:
Post a Comment
<< Home