Tuesday, April 17, 2018

Cedera Kaki

Menyambung nikmat sehat yang dibicarakan sebelumnya, saya mau cerita sedikit soal cedera kaki saya kemarin. Cedera kaki terlama, tiga minggu lebih kalau tidak salah. Cedera kaki ini kali ketiga dalam hidup saya, pertama ketika di acara pernikahan sepupu suami, penyebabnya adalah sepatu yang runcing ujungnya yang saya harus kenakan sepanjang hari hingga malam. Yang kedua adalah ketika turun dari commuter line, kaki tergelincir karena menginjak batu. Sakitnya luar biasa, tapi sembuh sesudah minum obat penghilang rasa sakit meloxicam. Cedera kaki kali ini tidak kunjung reda meskipun meloxicam sudah habis hampir separuh strip ditambah metil. 

Awalnya saya yang sudah off beberapa minggu zumba, mencoba mencari alternatif olahraga lain seiring perut yang kian membuncit. Saya dan teman teman kuliah memang sedang mengikuti workout challenge yang awalnya outputnya kalori namun belakangan diganti menjadi kilometer. Hal ini yang menyebabkan saya pengen mencoba lari minimal 15 menit sehari. Setelah tanya- tanya teman, saya mulai simulasi di hari libu sabtu dan minggu. Saya bangun seperti biasa layaknya dihari kerja, kemudian melakukan aktivitas dapur 30 menit. Setelah itu, saya coba lari 15 menit sedapatnya, waktu itu cuma 1,5 km kalau tidak salah, setelah itu selesai ternyata masih ada waktu untuk menyiapkan Aydin sekolah. Saya pede bisa diterapkan di hari kerja keesokan harinya. Alih- alih mau sehat, hari keenam kaki saya sakit, bahkan dibuat jalan. Saya istirahat lari berharap 1-2 hari sembuh, malah hari ke-3 kaki saya bengkak, cenut- cenut rasanya. Setelah saya googling dan bertanya ke teh Ninit Yunita, ada prosedur RICE (Rest Ice Compression and Elevation) biasa diterapkan untuk cedera kaki ringan sehabis berlari. Selain diistirahatkan juga dikompres dengan es batu. Saya mencoba melakukan itu, hasilnya memang mak nyes kalau sedang dikompres, daripada dioles Counterpain yang cenderung panas (seharusnya saya beli yang cool). Memasuki minggu kedua belum ada perbaikan meskipun saya sudah minum obat, bahkan sakit untuk duduk iftirosy sekalipun. Minggu ketiga saya memutuskan untuk "mengistirahatkan" kaki dengan cara menggunakan sepatu olahraga yang alasnya empuk. Dan meminimalisir penggunaan kaki kiri yang sakit. Alhamdulillah di minggu ketiga berangsur-angsur kempes.
Saya menarik kesimpulan, mengistirahatkan kaki adalah kunci selain pertolongan Allah tentu saja. Jika tidak mungkin mengistirahatkan kaki, upayakan tidak "menyiksa" kaki. Setelah memasuki minggu ketiga saya mulai mencoba duduk iftirosy, alhamdulillah bisa, dan merasa lebih baik setelahnya. Hari ini, saya sudah kembali memakai sepatu biasa, alhamdulillah.

Kalau boleh saya mengambil kesimpulan, bahwa sebaik-baik rencana yang kita buat, tanpa pertolongan Allah apa artinya. Apalagi mungkin ada sifat ujub didiri saya, kontan dibalas Allah. Untung dibalas didunia, Astaghfirullah...
Kenapa saya bilang ujub, ketika di hari ketiga saya berjanji dalam hati apabila ini dilakukan konsisten hingga 30 hari, saya ingin menghadiahi diri sendiri dengan sepatu baru, duniawi banget khaan..
Ternyata Allah tidak ridha.....

Apalagi ditambah 6 hari lari, berat badang stagnan. Sebaliknya, ketika sakit, berat badan turun 4 kg. Allah memberi bukti sedang menegur saya..hiks...
Namun, ini tidak menyurutkan saya untuk tetap lari, namun niat saya harus berubah, lebih ke aktivitas sampingan yang tidak harus setiap hari dengan tujuan sehat, bukan aktualisasi diri *haree genee
Untuk selanjutnya, pemanasan menjadi hal penting,sehingga 15 menit menjadikan kemungkinan lari sebagai aktivitas harian menjadi kecil, mungkin seminggu 2-3 kali saja untuk kedepan.

Tuesday, April 10, 2018

Waktu dan Sehat

Bismillahirahmanirrahiim...
Keinginan menulis blog sejak sebulan yang lalu, apa mau dikata Bulan Maret kemarin lumayan padat- padatnya. Mulai dari kegiatan yang harus berjalan, lalu disambung dengan Diklat Pengadaan Barang Jasa, lanjut lagi seleksi S2. Waktu berjalan berjalan begitu cepat, doanya cuma saya, anak- anak, suami juga semua dikasih sehat.

Persiapan Kegiatan Bimbingan Teknis sudah dilakukan dari Bulan Pebruari, dari mulai booking ruangan. riset materi sampai menghubungi narasumber, semua sudah dilakukan. Qodarullah, seminggu sebelum acara, saya disuruh diklat seminggu. Untungnya, tempatnya masih di dalam kota dan dekat dengan kantor. Alhasil, jam istirahat saya bolak balik ke kantor memastikan persiapan untuk acara minggu depannya. Kenapa gak dikasih ke tim? Saya gak bisa begitu, meskipun yang "bungkus-bungkus" dibantu tim tapi memastikan undangan terkirim sehingga peserta bisa datang serta memastikan narasumber tidak ada halangan untuk hadir. Capek dong? Banget (Gista lagi seneng bilang ini). Alhamdulillah, dengan izin Allah, acara terlaksana dengan lancar.

Lalu, beralih ke Diklat Pengadaan Barang Jasa yang berujung ke ujian. Setelah diklat, saya mendaftar untuk mengikuti ujian yang lokasinya di Epicentrum Kuningan Jakarta. Saya memutuskan untuk naik commuter line, karena kalau naik mobil kebayang betapa macetnya dan pusing dengan kebijakan ganjil-genap. Saya berangkat dengan kereta jam 06.00 dengan adik saya, yang memang pengguna commuter line. Pada jam tersebut kepadatan gerbong wanita luar biasa, tidak ada jeda sama sekali diantara penumpang, sama sekali tidak nyaman. Mereka menyibukkan diri masing- masing, ada yang nonton film, tilawah, dzikir pagi, apa saja yang membuat mereka nyaman dan kelihatannya mereka terbiasa melakukan itu. Satu jam saya sudah tiba di lokasi, saingan sama office boy yang masih membersihkan ruangan hehehe

Dibalik ujian ini, sudah ada rencana lain setelahnya, ujian hanya sampai jam 12.00, jika lulus harus menunggu hingga jam 14.00 untuk mendapatkan sertifikat. Awalnya terbersit untuk ngemol ke mall yang heits di Jekardah, tapi koq gak sreg di hati. Akhirnya saya menghubungi 2 sahabat saya, yang satu kebetulan kantornya dekat dengan lokasi ujian, yang satu lagi rumahnya bisa dijangkau ojek dengan biaya hanya 10rb :))
Ternyata saya lulus, sambil menunggu sertifikat, janjian deh saya sama Rina teman sekasur jaman kuliah yang kantornya kebetulan dekat. Saya macam orang desa ke kota deh waktu itu, mau ke lokasi makan aja, puter-puter dulu. Lima tahun lalu gak ada soalnya hahaha...Jujur aja melelahkan, tapi terbayar sama kangen-kangenan yang cuma 1,5 jam huhu...

Dengan Rina

Setelah ngambil sertifikat, lanjut ngojek ke Pengadegan, ketemu Feny a.k.a Pepeng, sama temen sekasur jaman kuliah sampe kerja. Ngobrol kangen-kangenan, gak terasa udah jam 16.00 hiks.. Jam 16.30 diantar ke Stasiun Duren Kalibata, alhamdulillah langsung dapet kereta.
Di gerbong kembali umpel-umpelan, yang ada dipikiran saya, cepet sampai rumah deh ah..hahaha
Saya bersyukur mengambil pilihan ketemu sahabat-sahabat ketimbang nge-mall gak jelas :D

Dengan Feny

Selama ini hidup saya nyaman banget ya, berangkat dari rumah, duduk manis di motor/mobil, 15 menit kemudian sampai kantor. Pulang-pergi masih ketemu matahari kadang masih ngeluh juga. Apalagi kalau sudah sibuk wira-wiri kerjaan dan urusan rumah. Kalaupun ada urusan rumah yang gak tertanganin, bisa buru-buru telpon suami, yang kantornya lebih dekat ke rumah (10 menit) buat tandem. Pernah suatu ketika kita ngobrol sama suami, mana ada yang enak kayak kita suami istri kerja disatu kota coba..Masya Allah..

Ternyata nikmat itu baru terasa kalau sudah diambil dari kita ya, nikmat waktu yang lebih lama dengan anak-anak, saya baru berangkat ke kantor setelah semua berangkat sekitar jam 07.00 dan tiba dirumah jam 17.00 dengan kondisi gak terlalu lelah dijalan, jadi masih bisa nemenin anak main di lapangan, masak dan lain-lain.
Dengan kondisi suami yang juga dekat kantornya, kasus ini mungkin 1 :1000, pegawai DJP yang kantornya dekat rumah, jangan-jangan iming-iming promosi malah menjadi momok tersendiri buat kami.

Seleksi ujian juga menjadi cerita tersendiri buat saya, soal kota yang menjadi lokasi ujian. Mulai dari macet dimana-mana, lalu trotoar yang kurang ramah pejalan kaki (banyak lobang) dan jarangnya jembatan penyeberangan orang di tempat keramaian seperti mall sekalipun.
Jadilah kami membanding-bandingan dengan tempat tinggal kami, padahal sebelumnya kadang kita suka banyak mengeluh. Syukur itu hadir kalau nikmat diambil dari kita, termasuk nikmat sehat.

Habis ke mall yang letaknya depan hotel tapi nyebrangnya Masya Allah





Sunday, February 25, 2018

Skin Routine, bhaaay SKII

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu 'alaikum..
Setelah setahun mencoba pakai SKII (FTE lebih dari 2 tahun), ngibarin bendera putih juga eykeh. Alasan utama gak kuat cuy, mehong. Alasan berikutnya kulit eyke teteup biasa ajeew...
Ditambah Spot essence, WSDB, dan SCDB yang udah dibuang wadahnya
Akhirnya akhir tahun kemarin mulai ganti haluan, WSDB dan SCBD habis duluan, saya hanya menghabiskan sisa- sisa FTE yang lumayan awet gak habis-habis dan mulai mensubstitusi yang habis dengan produk lain. Ternyata kulit saya gak butuh yang mahal tapi yang cocok, catet ya.

Setelah dua tahun ini berjibaku dengan perawatan muka, akhirnya menemukan kunci dari perawatan itu sendiri, yaitu exfoliating and hydrating. Exfoliating termasuk cleansing, hydrating kuncinya di melembabkan di malam hari dan sunblock disiang hari. Pilih merk apa terserah yang penting cocok di muka.

Cleansing and Exfoliating
Sebelum pakai krim- krim sebaiknya pastikan muka bersih sebersih-bersih. Tahapan perawatan malam hari, adalah Cleansing Oil dari Biore, produk import ini beli di tokopedia dengan seratus ribuan, karena tulisannya huruf kanji semua, kira- kira 200ml. Saya bandingkan dengan botol Toner The Body Shop yang isinya 250ml. Sebelumnya saya pakai Wardah pure olive oil, walaupun dapat mengusir kotoran, tapi kurang nyaman tanpa handuk hangat dan kurang ampuh untuk make up di area mata. Nah, kalau Biore ini baru sebulan pakai, sejauh ini saya cocok, cara pakainya juga mudah. Tuang di telapak tangan, usapkan diseluruh wajah kemudian beri air sedikit sambil diusap-usap merata lalu basuh dengan air sampai bersih. Awalnya saya ragu, meninggalkan minyak atau tidak, ternyata tidak, wajah bersih bahkan eyeliner juga hilang tanpa noda hitam di area mata.
Tulisan kanji semua :))
Setelah itu, masuk ke tahapan cleansing wash, sebelumnya saya setia pakai Cetaphil Gentle Cleanser, sama sekali tanpa masalah. Setelah cuci muka, wajah terasa lembab dan wajah tidak breakout sama sekali. Namun belakangan keracunan produk Jepang ini, keluaran Shiseido, Senka Perfect Whip, yang dijual di Watsons dengan harga 65rb ukuran 120gr. Produk ini diklaim sebagai best seller sabun wajah di Jepang yang menghasilkan busa yang lembut dan ampuh membersihkan kotoran namun kulit tetap lembut. Menurut saya, untuk kondisi kulit bermake up dan beraktivitas outdoor buat saya ini cocok, dikala cetaphil kurang nendang untuk urusan ini.

Cara pemakaian seperti pada umumnya pemakaian sabun wajah, menurut review yang saya baca, tuangkan sekitar 1 cm di telapak tangan, beri sedikit air kemudian buat busa. Busa inilah yang diusapkan ke wajah, seperti budaya wanita Jepang, menggunakan busa untuk membersihkan wajah. Kemudian basuh dengan air, sensasi bersih dan segar terasa sekali. Untuk muka saya yang cenderung kombinasi kering dan berminyak di daerah T, kadang ada sedikit kaku namun sejauh ini tidak menimbulkan kering. 
Saya menyiasati kekakuan dibeberapa area dengan mengusapkan Toner Vitamin E dari The Body Shop, toner ini membantu melembabkan dan menenangkan kulit saya. Cita cita saya, boleh dibilang racun yang belum dicoba adalah Pixi Glow Tonic, toner yang dapat meng-exfoliate juga, karena harganya luamayan mahal :p Saya mau mencoba ini dulu sampai habis , toh kulit saya tidak bermasalah setelah pakai ini.



Selama ini saya melewati kunci skin routine yang sebenarnya, yaitu exfoliating setelah doubel cleansing. Saya hanya menyelesaikan sampai tahap toner, ternyata harus diselingi dengan scrubing untuk menghilangkan kulit mati yang menempel menyebabkan wajah kusam dan tidak cerah apalagi untuk usia diatas 30 seminggu bisa 2-3 kali sesuai kebutuhan kulit. Setelah baca beberapa review pilihan jatuh pada St Ives Apricot Blemish Control, saya aplikan seminggu dua kali, baru berjalan 2 minggu. Hasilnya lumayan wajah jadi lebih cerah (menurut saya sih hehe). Cara pakainya mudah aplikasikan pada seluruh wajah, gosok- gosok namun jangan terlalu keras. Klaim produk ini terbuat dari bahan-bahan alami sehingga aman dan tidak membuat kulit kering, dan ini terbukti sehabis pemakaian kulit menjadi halus lembut dan kenyal. Produk ini  dapat diaplikasikan dapat setelah facial wash seminggu 2 kali, setelah itu baru toner yang berfungsi meredam kulit wajah kita.


Lalu apakabar Cetaphil Gentle Cleanser, saya gunakan dipagi hari. Konon katanya wajah dipagi hari masih dalam kondisi istirahat dan belum terpapar bahan apapun, ada beberapa review yang pernah saya baca, cuci muka dengana air saja cukup kemudian beri toner untuk menyegarkan. Tapi saya khawatir kalau masih ada aroma iler gimana gitu (ups...), saya rasa cetaphil ini cocok dengan kandungan yang super aman. Cara mengaplikasikannya taruh ditelapak tangan, usapkan ke wajah dalam kondisi kering, sambil dipijit dengan lembut kemudian bilas hingga bersih, jangan kaget ini sama sekali tidak berbusa lho jadi gak bikin kulit wajah "kaget" setelah  itu jangan lupa beri toner ya :))
Penampakan dengan tutup udah sompal, karena awet banget, isinya tinggal sedikit

Dengan demikian wajah siap untuk dihidrasi. Prinsip hidrasi itu melembabkan membuat wajah menjadi kenyal. Wajah berminyak perlu dihidrasi gak? perlu, karena berminyak belum tentu lembab. Untuk wajah berminyak pilih pelembab yang berbentuk lotion atau essence.


Saya memutuskan untuk tidak punya cukup banyak punya krim-kriman. Sebelum berangkat ke kantor setelah wajah dibersihkan saya hanya pakai sunblock. Ini adalah produk baru yang katanya hits banget  para beauty blogger, singkatnya ini racun saya yang kesekian. Ini adalah Biore UV Aqua Rich Watery Essence, berbahan dasar air, mirip mirip sama Skin Aqua favorit. Hanya sedikit berbeda, kalau Skin Aqua lebih transparan, kalau yang Biore UV lebih creamy sedikit, lebih beraroma tapi sama- sama ringan diwajah.



Kalau pagi cuma pakai ini aja, gak ada tambahan lain. Tips memakai sunblock adalah jangan sayang- sayang mengaplikasikan di wajah karena tugasnya berat sepanjang hari nanti :p

Kalau perawatan malam agak beragam, tapi gak banyak. Sehabis wajah dibersihkan, biasanya saya pakai FTE dari SKII, 3 bulan terakhir beralih ke Lancome Blanc Expert Melaynoser, semacam essence yang berfungsi sebagai pecerah wajah. Harganya 150rb untuk kemasan 50ml, awet ya 3 bulan belum habis. Seperti layaknya essence, rasanya dingin dikulit tapi melembabkan diakhir.


Dan ini yang terakhir, Bio Oil, minyak serbaguna ini punya banyak manfaat, semacam palugada (apa lu mau gua ada) dari untuk menyamarkan warna kulit, mengurangi stretchmarks membuat kulit lebih kenyal dan masih banyak lagi. Mirip seperti baby oil, harumnya tidak mencolok. Harganya 120rb kalau tidak salah, banyak dijual di toko- toko perawatan.

Palugadaa

Last but not least, Vaselin serbaguna untuk lip moisturizer, melembabkan disaat kita tidur. Sedikit kan, saya amemang mencoba menerapkan minimal skincare routine. Menurut pemahaman saya semakin sedikit semakin kulit tidak bingung menerjemahkan bahan-bahan yang masuk kedalam kulit. Kalau mau ditotal julah biaya perawatan masih lebih murah dari harga FTE SKII 75ml lho :p

dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut ya,

skin routine = cleansing (exfoliating) + hydrating

Siang
  • Cleansing
  • Toner
  • Sunblock
Malam :
  • Cleansing #1
  • Cleansing #2
  • Exfoliating (2x seminggu)
  • Toner
  • Moisturizer
Demikian, semoga sharing ini dapat membantu buat yang baru mau mulai mempraktekkan skin routine tapi masih bingung mulai darimana.
Wassalam...

Wednesday, January 10, 2018

Update Report

Banyak sekali yang ingin saya tuangkan dalam tulisan kali ini karena kurang konsistennya saya untuk menulis. Sejak tadi pagi berniat meluangkan waktu sedikit menulis, habis apel pagi niat buka laptop langsung buka akun blogspot, kemarin-kemarin buka laptop langsung buka akun SIPKD :)

Puasa Medsos
Sudah beberapa bulan ini saya puasa medsos, tidak update status maupun foto. Pernah baca sebelumnya tentang penyakit 'ain? Berikut saya adopsi dari muslim.or.id penjelasannya,
Penyakit ‘ain adalah penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki ataupun takjub/kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena.
Ibnul Atsir rahimahullah berkata,
ﻳﻘﺎﻝ: ﺃﺻَﺎﺑَﺖ ﻓُﻼﻧﺎً ﻋﻴْﻦٌ ﺇﺫﺍ ﻧَﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻋَﺪُﻭّ ﺃﻭ ﺣَﺴُﻮﺩ ﻓﺄﺛَّﺮﺕْ ﻓﻴﻪ ﻓﻤَﺮِﺽ ﺑِﺴَﺒﺒﻬﺎ
Dikatakan bahwa Fulan terkena ‘ Ain , yaitu apa bila musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu pandangan itu mempengaruhinya hingga menyebabkannya jatuh sakit” 1.
Sekilas ini terkesan mengada-ada atau sulit diterima oleh akal, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa ‘ain adalah nyata dan ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺣﻖُُّ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺷﻲﺀ ﺳﺎﺑﻖ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻟﺴﺒﻘﺘﻪ ﺍﻟﻌﻴﻦ
Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya” 2.
Contoh kasus:
  • Foto anak yang lucu dan imut diposting di sosial media, kemudian bisa saja terkena ‘ain. Anak tersebut tiba-tiba sakit, nangis terus dan tidak berhenti, padahal sudah diperiksakan ke dokter dan tidak ada penyakit.
  • Bisa juga gejalanya tiba-tiba tidak mau menyusui sehingga kurus kering tanpa ada sebab penyakit.
Hal ini terjadi karena ada pandangan hasad kepada gambar itu atau pandangan takjub dan PENTING diketahui bahwa penyakit ‘ain bisa muncul meskipun mata pelakunya tidak berniat membahayakannya (ia takjub dan kagum).
Serem ya,  selain tidak update foto dan status, saya mulai memprivatisasi foto-foto anak saya. Tapi jangan berkecil hati, saya pikir status- status yang menginspirasi seperti resep masakan, aktivitas kreatif ataupun ajakan-ajakan positif yang membangun saya kira gak ada masalah ya. Atau misal posting piknik tapi bertujuan menginfokan itinerary tempat wisata, mungkin cara penulisannya saja yang perlu diperhatikan ya. Wallahu a'lam.

Menulis jurnal harian
Sejak SMP  saya terbiasa menulis jurnal, sampai suatu ketika maraknya media sosial, saya mulai berpaling, nyampah di wall orang, meninggalkan menulis jurnal, Tahun 2006 buat blog, karena saya sadar "curhat" berlebihan di wall orang is BIG NO apalagi semakin kesini status yang ada di wall tidak sefun status- status jaman dulu. Seringkali berbau SARA dan politik.
Sebenarnya beberapa bulan lalu,  saya sengaja jalan ke toko buku untuk mencari jurnal yang "lucu", tapi ternyata harga jurnal mahal ya :D Akhir tahun kemarin secara tidak sengaja menemukan di toko yang ke-jepang-jepangan harga 30 ribu, bentuknya lebih mirip pocket diary jadi lebih mudah dibawa kemanapun saya pergi, jadilah saya beli.
Saya putuskan untuk mengisi hal- hal yang kita syukuri pada hari ini, minggu ini atau bulan ini, saya kasih tagline 5SYUKUR, semacam gratitudelist  gitu. Tujuannya agar selalu besyukur dari hari ke hari, meskipun terkadang hari, minggu atau bulan yang kita lalui terasa berat. Dengan bersyukur, mudah-musahan saya terhindar dari sifat ujub, hasad dan kufur nikmat.

Keresahanku
Resah sama lingkungan sekitar lebih tepatnya. Mulai dari sulitnya cari teman makan keluar karena teman makan sangat mempengaruhi mood kita sepanjang hari, sulit cari teman makan yang membawa aura positif lebih tepatnya.
Makin sedikit yang bisa dijadikan panutan di kantor. Tampaknya saya harus sering throwback kesebelas tahun lalu kenapa saya melamar kerja disini supaya semangat itu tetap ada. Semangat kerja dengan berharap ridho Allah (ditambah suami dan anak- anak kalau sekarang), membahagiakan orang tua dan orang- orang disekeliling, jadi pribadi mandiri yang bermanfaat (tsaaah). Tujuan awalnya sederhana banget, dan semua sudah Alhamdulillah sudah diberikan Allah. Jadi kalau minta lebih buat apa atau buat siapa? Saya sedih karena sudah jarang role model yang menginspirasi saya belakangan ini. Semoga Allah senantiasa memberikan pertolongan dalam setiap langkah.




Monday, December 04, 2017

9th wedding anniversary : 5 love language



Seseorang yang usianya jauh diatas saya pernah bertanya, "Gimana coba, padahal orang diluar sana memuji-mujiku sementara yang dirumah (suami) gak pernah sekalipun muji, komentar aja bahkan jarang". Kadang saya suka mengingatkan diri sendiri, kalau ada yang bercerita berbau curhat, agar saya menahan diri untuk berkomentar alias jadi pendengar aja yang baik. Karena saya dan suami dengan orang yang curhat punya latar belakang yang berbeda, masa kecil atau alasan pas pertama kali memutuskan menikah dengan pasangan.
Ketika teman saya "curhat" gitu, pengen juga menimpali, sama deh, yang dirumah juga gitu, dalam konteks jarang memuji. Pernah mengalami perasaan serupa, beberapa tahun yang lalu, disaat banyak mendapati cerita-cerita suami "posesif" (menurut saya), yang sehari bisa berkali-kali telpon istrinya, hanya untuk menanyakan sudah makan belum, sampai ngecek posisi istrinya dimana. Suami saya gak gitu soalnya. Bahkan setelah hampir 5 tahun berkantor di Tangerang, bisa dihitung berapa kali kita makan siang bareng.
Di awal menikah, saya dan suami berada di umur yang gak muda lagi, sudah mengalami beberapa masa sulit. Jadi, ketika kami bertemu, sudah bersepakat untuk memulai segalanya dengan jujur apa adanya, berniat berbahagia selama- lamanya (ini gak pake ikrar ya, cuma modal akad doang ngomongnya). Ada masa penyesuaian, kita kenal dan menikah di tahun yang sama soalnya.
Sembilan tahun ini saya belajar banyak hal sehingga percakapan sama teman tadi, bukan masalah besar buat saya. Saya merasakan kasih sayang dengan cara yang berbeda.

Sebulan lalu, sempet baca review 5 Love Language, mencoba mengidentifikasi supaya kedepan lebih baik lagi, terutama saya sih, masih suka ngambek gak jelas :p

Gift Giving
Kami bukan pasangan yang suka memberi hadiah disetiap moment, karena saya percaya uang yang buat beli, sudah dikasih ke saya, kapan aja saya mau beli saya bisa, tinggal nanti saya ngaturnya gimana, kalau yang mahal banget ya, tunggu beberapa bulan alias nabung aja dulu.
Meskipun saya berkerja dan berdaya guna, sama sekali gak dikasih tanggung jawab yang banyak untuk menyokong keuangan keluarga, praktis uang saya hanya untuk kebutuhan saya pribadi dan vacancy anak-anak. Ada beberapa yang menilai, itu menghambat impian, misal seharusnya saya bisa cicil rumah dan mobil sekaligus, kali ini harus satu persatu. Kalau menurut kami sih, nurutin gitu mana ada habisnya ya. Terbukti hidup kami lebih tenang karena urusan bukan mengejar materi melulu ya, saya juga lebih hepi gak dikejar-kejar hutang.

Quality Time
Setelah baca buku Chapman, saya jadi memperhatikan kapan sih saya quality time sama suami, ternyata cuma di meja makan dan di kasur hehe. Praktis belum pernah pergi berdua aja, meskipun cuma nonton bioskop, gak tega sama anak-anak. Setelah anak- anak lumayan besar, saya sempatkan masak setiap hari, kecuali hayati lelah. Kenapa harus saya yang masak sih (pernah ada yang nanya soalnya :p). Pertama, saya hepi kalau masak, saya merasa kasih sayang saya tertransfer ke masakan yang saya masak. Harapan saya nanti, kalau anak- anak sudah besar dan gak tinggal sama saya, ada perasaan "kangen masakan ibu" :') Kedua, memastikan aja yang diamakan anak- anak terjamin kualitas gizi dan kebersihannya (rasa nomor sekeyan sodara) Ketiga, saya juga pengen dapet pahala kaleee :p

Word of Affirmation
Bagian ini hampir sulit teridentifikasi kalau indikatornya kata sayang dan cinta ya, kalau indikatornya sabar, suami amat jarang bentak- bentak apalagi berkata kasar. Suami marah dalam rangka bantuin marah sama anak-anak, gak pernah marahin saya lho dia. Kalau saya udah bawel banget, paling jawab " apa sih?!", saya mati kutu deh, melipir mata udah mendung, tapi baik lagi koq, tapi saya yang gantian ngambek 3 hari.

Act of service
Urusan domestik memang saya ratuya, tapi untuk beberapa hal suami mau subtitute. Contoh pas tahun lalu saya sibuk- sibuknya, anak sakit, suami yang bawa ke rumah sakit, saya nyusul kesana. Bantu banget. Lalu, pas saya diklat yang pulang seminggu sekali, anak UTS, suami juga mau bantu. Seiring anak-anak besar, me time saya nambah, contoh seminggu 2 kali zumba sama tahsin seminggu sekali (kadang bawa anak satunya), itu semua seijin doi, gak rewel dia soal itu, dengan catatan saya tau diri ya, yang dirumah gak kelaparan hehe

Physical Touch
Waini, salah satu koentji, setelah sembilan tahun, tanpa menunjukkan kemesraan berlebihan di ruang terbuka, koq bisa sih gak mellow kayak teman saya dicerita awal. Ternyata non- sexual touch kita tuh, cuma sekedar usapin punggung, sama senderan punggung, gitu aja udah hepi hehe. Aslinya saya nyari-nyari sih, soalnya semua sexual touch, and it's charged me for a week.

Setiap pasangan punya love language berbeda, yang penting teridentifikasi aja, jadi meskipun pasangan gak romantis, gak perlu kecil hati, mungkin dia mencintaimu dalam cara yang lain.







Tuesday, October 10, 2017

Caring and Sharing

Seminggu ini berat buat saya, lebih tepatnya dua minggu belakangan. Untungnya akhir bulan kemarin nyempetin liburan bareng gangs, perdana lho ini (diposting nanti ya). Jadi ceritanya soal kerjaan kantor nih, kerjaan ini sebenernya hampir setiap tahun saya kerjain, acara sosialisasi, namun kali ini karena saya pinyah ke tempat yang berbeda, tentunya audience-nya pun berbeda, sebut aja saya nyubie.
Tahun-tahun sebelumnya acara seperti ini dilakukan di awal-awal tahun, karena sudah terpola, dan daftar undangan sudah saya pegang lah, tinggal mikir konsep dan tema apa supaya meraka gak bosan, dan bersemangat hadir.
Tahun ini, mundur karena saya harus diklat 3 bulan, selain itu sayapun belum tune-in baik itu konsep, peserta, dan dan narasumbernya, komplit lah pokoknya. Dua bulan saya observasi sana-sini buat dapet konsep yang pas, tema sudah dapet, terkait undang-undang yang baru, rilis awal tahun ini. Namun, pembicara yang akan saya undang saya maksimalkan menjadi 4 orang, observasi dilakukan supaya dapat judul yang sesuai dengan tema namun tetap sejalan dengan tren masalah yang ada sekarang. Selain itu, kegiatan dilakukan di lingkungan kantor yang ruangan terbatas, sempat mundur satu kali karena tempat "tergusur" sama pimpinan tertinggi, dipakai beliau.
Masalah bukan pada  konsep, narsum atau tempat. Tapi lebih kepada koordinasi dan birokrasi yang maaf "menyebalkan", saya mengurut dada.
Sebagai manusia biasa, saya kecewa sih, tapi bingung mau marah kemana...Tapi sebagai manusia yang bahagia (ciyee) saya gak boleh menyerah, mudahan-mudahan ini saya jadikan pengalaman untuk lebih fokus dan "bawel" supaya acara lebih sempurna.

Tapi Gusti Allah mboten sare, tadi pagi Bapak saya kirim pesan kalau telpon rumahnya rusak dari Minggu. Bapak saya ini sudah pensiun, langkahnya gak sepanjang dulu. Tumpuannya hanya ada pada anak perempuannya ini :') Saya sampaikan kalau saya akan menghubungi telkom, "bapak harap bersabar ya", kira- kira gitu deh kata saya.
Saya telpon telkom, Alhamdulillah responnya positif, teknisi datang dalam 2-3 jam setelah pengaduan. Alhasil telpon kembali bisa digunakan. Bapak saya kasih kabar, dengan menggunakan telpon rumah, suaranya hepi banget. Diatara 2-3 jam tadi, bapak saya hampir beli pesawat telpon baru, karena khawatir masalah dari pesawat telponnya. Mendengar suara bapak hepi, saya jadi hepi juga. Padahal saya cuma telpon sambil duduk manis di kubikel, dapet sms konfirmasi, saya forward ke bapak, 2-3 jam dapet kabar teknisi sudah dateng. It's easy for me, sama sekali tidak membuat repot. And makes him happy...that's the point.
Saya pernah sharing sama adik-adik, bapak dan ibu kita cuma butuh perhatian, okelah kado berbentuk hadiah atau sedikit uang juga harus kita sisihkan untuk mereka. Tapi lebih utama adalah, ketika mereka butuh, kapan aja dimana aja kita harus siap, jang bilang "nanti ya" atau "coba deh minta tolong ke...", jangan deh...jangan...
Satu lagi, ketika mereka hepi, kita pasti hepi, karena itulah sejatinya hubungan orang tua dan anak...



Labels: ,

Tuesday, September 19, 2017

Aydin turns 8

Kehadiran Aydin 8 tahun lalu membuat saya berubah haluan, terlahir sebagai anak yang aktif lumayan 'menenggelamkan' saya dari dunia luar (pekerjaan dan cita cita). Aydin bukan anak yang tipe yang tidurnya berjam-jam disiang hari, dan itu terjadi hingga sekarang, pulang sekolah hampir tidak pernah tidur siang, kecuali dipaksa dan diberikan "janji manis". Usia10 bulan sudah bisa rambatan, usia 12 bulan langsung lari, karena dirawat langsung oleh ibu saya, praktis membuat saya tidak bisa melepas secara penuh baik fisik ataupun pikiran, mengingat usia ibu saya kan tidak muda lagi. Saya kerap pulang lebih awal dengan mengerjakan pekerjaan dengan efisien setiap harinya, nyaris tidak terpikir untuk me-time diluar waktu rumah dan kantor. Di usia 10 bulan, mulai perlahan- lahan berbagi pengasuhan dengan ART yang sudah dipercaya merawat rumah kami. Karena ibu saya medominasi dalam perawatan selama saya ke kantor, pola asuh dan kasih sayang tidak perlu dikhawatirkan, persis bagaimana ibu saya merawat kami dulu anak- anaknya.
Seperti anak- anak pada umumnya, tak jarang pulang kantor ibu saya bercerita tingkah Aydin, dari mulai lucu nggemesin sampai tingkahnya yang aktif membuat ibu saya kewalahan. Yang gak saya lupa dari Aydin, dia penganut paham Mbah Surip, sampai usia 3 tahun meskipun kemana- mana dengan berlari, tapi dia sangat suka digendong, gak suka di stroller. Saya sampai beli bermacam- macam gendongan yang bisa membuatnya nyaman, namun dari semua gendongan favoritnya adalah Jarik alias Cukin hehehe gak keren banget kalau ke Mall.
Sampai dimana waktunya Aydin bersekolah, sebenarnya sekolah bukan hal yang asing buat dia. Ibu saya sebenarnya punya profesi lain, yaitu guru PAUD. Dari bayi hingga dia mulai diasuh oleh ART kami, Aydin selalu dibawa ke PAUD , tempat ibu saya mengajar, selalu ya selalu...Namun realita berkata lain, seminggu di hari pertama TK diisi dengan drama sedih dikaca kelas, selalu berlinang air mata ketika saya harus menunggu diluar arena belajar. Minggu kedua, tanpa air mata tapi masih berkaca- kaca. Minggu ketiga lulus dengan sempurna, dia mulai menemukan dunia baru yang menyenangkan, sayapun bahagia.
Ada cerita lucu  dari guru TKnya, setiap hari ada ritual mencuci tangan sebelum makan. Menurut penuturan gurunya, setelah siswa terkahir  yang mencuci tangan, Aydin selalu memastikan kalau kran yang dipakai temannya tadi sudah benar-benar mati. Adi saya (tantenya) pernah menjemput ke sekolah melihatnya sedang merunduk-runduk ke bawah washtafel, ternyata setelah pulang ditanya oleh tantenya bahwa washtafelnya bocor, jadi ada yang menetes....oalah...he is a unique boy i guess
Aydin tumbuh besar dengan karakter cenderung lebih tenang, penyayang dan berempati namun tetap masih suka sedihan (baca cengeng).
Ada cerita menyentuh beberapa hari kemarin, kami dapat oleh- oleh pulang haji dari kolega, salah satunya air zam- zam di botol kecil. Di botolnya ada tata cara minum air zam-zam, dia sudah paham sebelumnya, mengahadap kiblat-duduk-berdoa. Setelah minum, dia membisikkan saya doa yang dimohon, "Ya Allah berikan Aydin kepintaran dan kesehatan". Ah...saya selalu berkaca kaca kalau mengingat ini. Menuliskan sederet do'a saja mata saya jadi basah. Saya bangga padanya...
Aydin, semoga Allah selalu merahmatimu dengan kasih sayangNya, memberikan pertolongan pada setiap langkah kakimu, membimbingmu dalam mengejar cita-cita...

Labels: ,