Friday, May 12, 2017

Cerita Hari Ini

Mungkin saya PMS, semua terasa lebay soalnya...

Cerita Pertama,
Soal grup orang tua murid, grup sementara dibentuk oleh salah seorang mama yang berniat baik untuk memberikan bingkisan untuk 2 guru di kelas, hampir semua menyatakan setuju, diskusi panjang dimulai sejak pagi, dipenghujung malam tiba- tiba ada seorang mama yang kontra dengan alasan yang berubah- ubah alias gak konsisten. Mulai dari larangan memberikan kado secara pribadi tanpa melalui komite, kemudian dia setuju tapi nominal berkurang, tapi ditentang oleh mama- mama lain karena nominal terlalu kecil. Setelah itu alasan berganti dengan memberikan secara pribadi silakan, errr. Saya kenal dia sejak jaman di TK, selama ini suaminya atau ayah teman aydin yang sering kumpul dengan kami mama- mama TK. Mama yang satu ini juga pernah menginterup ketika fieldtrip TK yang pada waktu itu ke Lembang. Yang lucu, setelah menginterup selalu bersayap dengan embel-embel pengalaman dia selama ini sebagai pegawai yang sering bolak balik bertgas ke daerang tersebut, rawan macet, kalau soal kado kata bersayapnya bukan soal nominal tapi bla bla bla..Err koq masih ada orang yang seperti itu ya, saya biasanya kehabisan energi untuk argumentasi hal-hal yang dianggap tidak penting, tapi saya tanggapi juga sih. Karena mempersulit tujuan baik itu BIG NO buat saya. Kalau bisa gampang kenapa dibuat susah sih. Mungkin saya PMS.

Cerita Kedua,
Status orang-orang di timeline medsos, seolah-olah paling benar dibungkus secara drama membela orang yang jelas- jelas menghina agama yang diyakininya. Saya maklum ketika yang bicara itu muatannya :

  • keunggulan personal orang itu, sekasian itu ya warga jakarta selama ini, tiba-tiba menjadi peduli sama kotanya, kebhinnekaan jadi tren.
  • yang membela dilluar keyakinan dari yang dihina, itu bebas banget menurut saya, hidayah datang pada orang yang terpilih.
Yang sedih tuh, yang dihina agamanya sendiri, ada yang salah? Mungkin saya PMS

Cerita Ketiga,
Soal kerjaan, ada salah seorang staf non PNS, yang dinilai kurang disiplin. Staf itu sebenarnya mantan staf saya di seksi lama, kepala seksi yang baru keberatan dengan perilaku staf ini, jarang masuk. Herannya ketika namanya ada disalah satu tim saya (atas persetujuan pimpinan lho itu). Dia rajin banget, mungkin kasi yang lama kesel kali. Kejadian itu berlangsung selama saya diklat. Singkatnya sepulang diklat saya dapat laporan negatif tentang perilaku dia. Hari ini ada brifing kasi, yang dibahas adalah tentang dia, entah kenapa saya merasa solah- olah perilaku dia menjadi tanggung jawab saya. Saya sampaikan, bahwa masalah ini murni masalah si staf ini sama bosnya, baru ini lho saya terlihat emosional, saya menyampaikan dengan nada bergetar. Akhirnya pimpinan saya mengambil sikap untuk mengembalikan pembinaan ke kasinya, tidak ada pilihan pindah seksi, yang ada hanya pilihan stay or leave.

Kesimpulannya membiarkan energi negatif menaungi kita itu tidak seharusnya saya lakukan. Habis energi seharian, mood saya hilang, males beraktivas, hawanya pengen curhat kemana-mana. Tapi kadang menentukan sikap juga penting, paling tidak berlaku untuk orang-orang yang terlalu mendominasi, pengen bener sendiri dan tidak menerima kritikan.
Ah mungkin saya PMS...

Labels:

Tuesday, April 25, 2017

be-a-be-u

Sebenarnya pengen nulis soal Pandenglang, liburan ke Pangalengan, tapi status teman facebook saya lebih menggelitik. Bahwasannya ibu rumah tangga itu bukan be-a-be-u (dalem ya). Kalau saya nulis itu, bisa dipastikan langsung ditelpon sama suami. Haram hukumnya nulis yang sedih-sedih buat dia, mungkin dia merasa gagal kali jadi suami kalau istrinya begitu hehe..

Ada pengalaman nulis status sedih soal hal sepele, yang dia sudah tau sebelumnya, tetap malamnya ditegur, toh sudah ada solusinya.
Ada lagi, ketika kami sedang naik motor bertemu teman prajab saya, yang sayapun pangling, karena seingat saya dulu cantik, sampai- sampai meskipun baru menikah banyak peserta prajab yang laki-laki tanya- tanya soal dia. Keadaan ketika saya temui, 180 derajat, makanya saya pangling. Suami saya nyeletuk, itu pasti salah suaminya (halah)...jangan diambil hati ya.

Jadi, kembali ke status be-a-be-u tadi, nikah itu harus hepi kalau kata saya. Wujudnya bisa apa aja, yang istri jadi lebih glowing, suami tambah subur, itu berkah. Soal glowing, kami suka mengomentari foto- foto lama, secara fisik masih 'tertekan', itu bukti nyata yang gak bisa disangkal ya haha.

Lalu, semua tanggung jawab setelah menikah, punya anak yang pastinya tambah banyak, kurang tidur pastinya, kurang me time. Semua harus dianggap apa supaya tetap hepi, satu-satunya ya ibadah. Kalau saya ibadah prioritas, karena saya bekerja, bekerja saya anggap me-time saya, sehingga ketika pulang harus sudah siap berjibaku dengan urusan rumah. Capek? Pasti..makanya jangan lupa menghadiahi diri sendiri, dan gak harus materi. Rumah bersih, anak sehat itu berkah buat saya sebagi ibu bekerja, tandanya hidup berjalan lantjar.
Belanja? iya tapi gak impulsif, belanja kalau butuh. Beli sepatu kalau rusak aja, dan harus diskon (aku manusia biasa). Basic need perempuan yang penting ada, gak perlu banyak. Misal sepatu minimal ada sepatu hitam, coklat, sneakers, sama sepatu olahraga. Tas juga gitu, tas kerja, weekend, ransel buat piknik, tas kondangan, udah itu aja, gak perlu merah-kuning-ijo lah. Lipstik 2-3 warna aja.

Tapi ada juga yang bahagia tanpa itu semua, ada nih temen saya. Lebih visioner dia, suka beli barang yang sifatnya investasi, basic need dia sebagai perempuan gak perlu. Dia hepi, hidup harus punya prioritas memang, intinya jangan tengok kanan kiri untuk bahagia, kita harus menentukan sendiri.

Gak jarang yang keliatan wah diluar, tapi rapuh didalam (itu banyak)... Kita sering liat orang blanja-blenji, hampir tiap hari, sampai lemari gak muat, bahkan ada lemari khusus jilbab. Tapi giliran bayar sekolah anak awal semester pinjam sana- sini...sedih deh.

Jangan merasa terdzolimi kalau suami dianggap gak pengertian, mungkin emang dia gak tau. Gimana mau tau kalau kita gak bilang, berlatih mengungkapkan segala yang mengganjal itu perlu. Saya mulai dengan email hehe. Sekarang terbiasa dengan  WA, walaupun hanya dibalas "ok", gakpapa yang penting besok ada perubahan. Jangan menuntut terlalu banyak, menuntut harus dimengerti, harus diperhatiin dsb. Apalagi suami sebagai pencari nafkah utama, dengan dia mikir mau ganti hape aja udah anugrah buat kita lho. Don't ask too much, makin tambah gak hepi hidup kita.

Jadi, gak cuma sekolah aja kita belajar. Di semua lini kehidupan, terutama menikah, yang memang gak ada sekolahnya. Kalau cuma gak sreg dikit mah, telen aja, buang di toilet deh, jangan galau berlebihan, bisa jadi itu bisikan setan. Na'udzubillah.


Labels:

Thursday, April 06, 2017

Lombok 2017

This Lombok Trip sponsored by Dklat PIM IV hehehe. Dari dulu destinasi yang paling pengen dikunjungi itu Lombok, tahun ini pengen buat propoosal ke Lombok, tapi rejeki gak kemana, atas biaya dinas jadilah saya ke Lombok. Kunjungan ke Lombok bagian dari serangkaian Diklat PIM IV yang awalnya mau saya tunda, atas desakan teman sepermainan dan ijin suami tentunya, didetik-detik terakhir saya mulai mengurus persyaratannya.
Saya berangkat dari Tangerang Minggu jam 08.00 WIB sampai di Lombok sekitar jam 11 WITA dengan rombongan Tim sebanyak 40 orang. Bandara Lombok Praya banyak spot foto-foto, sambil nunggu bagasi, yuk mari.

Gemes pengen crop sisi kanan :p
Kami menginap di Hotel Lombok Raya, Mataram. Hotel lama namun kondisi masih terawat, ada beberapa pengembangan disisi belakang. Yang saya suka dari hotel ini makanannya, pas di lidah, karena menurut saya makanan di Mataram dan Lombok agak terasa aneh di lidah saya. Sorenya kami sempatkan berkeliling di sekitar hotel, banyak juga kuliner yang berada di sekitar hotel, gak khawatir kalau malam tiba- tiba lapar.
Keesokan harinya kami mengunjungi Kantor Walikota Mataram, tujuan utama kita berada disini :p Setiap rombongan terbagi menjadi beberapa kelompok dengan tujuan lokus yang sudah ditentukan, ke beberapa instansi di lingkup Pemda Kota Mataram. Kelompok saya kebetulan berkunjung ke Dinas Pekerjaan Umum Kota Mataram. Setelah diperhatikan, perjalanan dari bandara menuju hotel, jalan yang kita lalui hampir semua bagus dan tidak rusak. Ternyata setelah paparan, kondisi jalan di Kota Mataram 73% memang dalam keadaan baik. Ngomongin kerjaan gak ya...gak usah ya. Secara menyeluruh, widyaiswara yang sebagian besar dari Pandeglang banyak belajar dari Kota Mataram, banyak yang inovasi yang telah dilakukan namun belum dilakukan di Pandeglang, jangan membandingkan dengan Kota Tangerang ya, sangat tidak apple to apple :p

Kantornya sederhana namun sambutannya luar biasa

Hari kedua dalah City Tour...yeay...
Tujuan pertama ke pusat tenun, seluruh penduduknya terutama wanita harus bisa menenun, setelah mahir baru diperkenankan untuk menikah. Di Lombik ini terkenal dengan istilah merari artinya kawin lari, pria Suku Sasak, suku asli lombok bila ingin menikahi wanita harus melakukan tradisi ini. Pihak laki- laki menjemput calon istrinya ditempat yang telah ditentukan dengan ditemani pihak keluarga laki- laki, penjemputan ini tidak boleh ada satupun yang tau termasuk orangtua pihak perempuan. Setelah dilarikan, perempuan diinapkan di rumah kepala kampung yang sifatnya netral. Pihak laki- laki kemudian meminta orang tau laki- laki untuk dijadikan wali nikah dengan memberikan mahar berupa materi. Akad nikah di rumah mempelai laki- laki, begitu pula resepsi.

Belajar menenun susah ternyata

Rata rata harga kain ini 1 hingga 2 juta

Tujuan kedua kami ke Pantai Kuta Mandalika lebih dikenal dengan pasir mericanya. Salah satu dari Lombok yang bikin saya penasaran adalah pantainya, yes because i love beach so much. Kami makan siang di seberang pantai, selanjutnya ini hasilnya.







Berikutnya adalah menuju desa wisata, melihat kehidupan Suku Sasak pada umumnya dari dekat, rumah adatnya terbuat dari bilik dengan lantai dari tanah liat dicampur kotoran kerbau, jadi selama disana jangan ditanya betapa harumnya..

Suku Sasak

Rumah Adat Suku Sasak

Hari berikutnya adalah Gili Trawangan, menyusuri Lombok Selatan melewati Pantai Senggigi yang indah menuju penyebrangan ke Gili Trawangan.

Nyebrang pakai kapal ini, kapasitas 22 orang

It's snorkling time
Tujuan utam ke Gili Trawangan adalah snorkling, tapi sayang saya tidak bisa mengambil pemandangan bawah air, hanya satu yang membawa GoPro, belum beliau share sampai sekarang. Believe me, it's beautiful..

Instagramable banget yak

Nyari spot view bawah laut

Abis Snorkling

Menuju Lombok
Akhirnya menikmati sunset di Senggigi deh..alhamdulillah

Butiran pasir di Senggigi tidak sebesar di Kuta
Meskipun Lombok 99% muslim, namun iklim nyepi sedikit terasa disana, kebetulan selasa adalah hari raya nyepi. Beberapa blok yang dikenal sebagai kampung Bali ditutup disana, kami sempat menyaksikan pawai Ogoh- ogoh juga di depan hotel.

Serem ya
Kami pulang Kamis siang dari bandara, beberapa spot oleh-oleh tidak saya dokumentasikan. Lombok terkenal dengan Mutiara, Susu Kuda Liar dan Madu Sumbawanya selain tenunnya yang cantik- cantik.
Mutiara mulai dari 100 ribu/ 5pcs (anting atau cincin) untuk mutiara air tawar lapis alumunium hingga jutaan rupiah untuk mutiara air laut berlapis emas. Semua destinasi wisata ditempuh kurang dari 1 jam (rata- rata 45 menit), kami tidak perlu bermacet- macetan dijalan, sehingga samapi lokasi dalam keadaan fresh.

Labels:

Monday, January 09, 2017

Cooling down

Hello 2017,
Pertanggal 3 Januari 2017, saya mutasi ke seksi 'sebelah' masih di Bidang tanah lahir beta, Perumahan dan Permukiman. Jadi, ceritanya Kantor Pemerintah tempat saya bekerja mengadakan reorganisasi besar-besaran, terjadi perombakan beberapa dinas beserta stuktur dibawahnya.

Minggu terakhir di Bulan Desember, kami sudah packing barang-barang, dokumen arsip seksi saya total 12 kardus besar, dukumen pribadi 1 kardus, sengaja saya pisahkan, untuk jaga- jaga pencarian ketika unpacking. Pindahan ini kali ketiga buat saya pribadi, kira-kira terbayang jika menempati lokasi baru nanti.

Gembar-gembor pelantikan digaungkan tanggal 3 Januari 2017, karena kesibukan akhir tahun yang padat, saya malah belum sempat menjadikannya gosip di warung sebelah. Konon katanya sempat menjadi viral disetiap titik tongkrongan lho hehehe..Tibalah pengumuman pelantikan Tanggal 2  Januari malam, temanya Sholat Shubuh berjamaah di Masjid, dikecualikan bagi yang nonmuslim dan wanita haid. Saya kategori kedua, dillantik di ruangan yang berbeda pada jam 07.30. Pada hari-H saya berangkat dari rumah seperti biasa, tibanya di tempat yang dijadwalkan sudah ramai orang menunggu, pelantikan agak telat karena yang di Mesjid belum selesai. Sesaat sebelum mulai di grup sudah heboh bahwa jabatan saya sudah ada yang menempati, teman saya sendiri yang sebelumnya duduk di seksi pemakaman. Mau tau perasaan saya waktu itu, merasa ada yang dicabut dari diri saya, beban pekerjaan yang tidak selalu berakhir di akhir tahun, atau bahkan pekerjaan yang tertunda warisan belasan tahun sebelumnya. Disisi lain, perlahan anggota tim saya satu- persatu melintas dibenak saya, kadang membuat saya bangga, tak jarang juga menguras energi saya. Pelantikan berlangsung formal, saya belum tau ditempatkan dimana.

Sesampainya saya dikantor, satu-persatu menghampiri menanyakan posisi baru saya, termasuk Bu Bos yang masih menempati posisi lama. Secara tersirat beliau khawatir, karena pekerjaan saya masih harus berlanjut di seksi yang lama. Beliau berharap saya masih di bidang yang sama karena masih ada satu seksi yang belum atau ditempati siapa supaya bisa bantu kalau historis pekerjaan yang terlupakan oleh beliau. Siang harinya saya dapat kabar, kalau saya menempati seksi yang baru disebutkan diatas. Ada perasaan lega bercampur haru, anggota tim secara spontan bilang "alhamdulillah".

Seksi yang baru, walaupun di bidang yang sama, sangat berbeda dari tema perumahan dan permukiman. Hari ini saya baru lihat DPAnya, cuma mau bilang alhamdulillah. Saya bisa cooling down dari beban yang lumayan mendera selama (halah bahasane).
Seminggu ini saya masih terima tamu dan telpon terkait pekerjaan saya yang lama, sambil mempelajari pekerjaan saya yang baru. Mulai dari nol ternyata tak kalah beratnya lho.

Lesson learned, jangan khawatir apabila diberi ujian dalam bentuk apapun, Gusti Allah mboten sare, habis malam pasti datang siang. Selalu yakin dan percaya, segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata mohon ridhoNya, Insyaallah berbuah manfaat dan kebaikan. Mudah-mudahan ujian pekerjaan yang saya lalui membuat saya "naik kelas".

Sunday, December 04, 2016

Tahun ke 8

Tak terasa sudah masuk tahun ke-8 usia pernikahan kami, masih belum apa- apa kalau dianalogikan usia sekolah, masih lanjutan. Tahun ini, saya pribadi merasa makin banyak pelajaran yang bisa diambil, baik dari pengalaman pribadi ataupun melihat kejadian-kejadian di sekitar saya.

Adalah salah seorang staf saya, yang usianya diatas 40 tahun (hampir semua staf saya berusia diatas saya, nasib) mendapatkan masalah dengan istrinya. Untuk usia itu, tahun pernikahan sudah lebih dari 15 tahun, dua kali lipat usia pernikahan kami. Hari itu saya ijin gak ke kantor karena sakit, di hari yang sama pula teman dekat saya menghubungi saya dan bercerita kalau habis ditelpon istri dari staf saya tersebut. Teman dekat saya kelihatan cemas, pasalnya istri staf saya menelpon dalam keadaan marah dan menuduh teman dekat saya ada affair dengan suaminya. Sang istri memaksa teman saya bertemu muka, terlepas tuduhannya terbukti atau tidak, dia bertekad mengumumkan di kantor teman saya tersebut, intinya membuat malu didepan umum. Singkat cerita teman saya dan staf saya bertumu keesokan harinya untuk mengklarifikasi, bahwa tidak pernah ada affair antara staf saya dengan temen saya itu seperti yang dituduhkan, jauhlah kesana. Staf saya akhirnya bercerita kehidupan rumah tangganya yang bertolak belakang dengan yang ia ceritakan selama ini.

Pelajaran pertama,
Rumput tetangga terlihat lebih hijau, kadang. Ini mungkin sama ketika saya dan suami mengomentari mobil- mobil yang selintas lewat ketika kami dalam perjalanan. Saya bilang, "ih keren juga ya mobil x, kita ganti itu aja yuk, Mas", wacana ganti mobil sejak 2013 dan belum terealisasi hingga sekarang. Suami menjawab agak gak sante (jarang-jarang lho dia gini), "rumah, mobil..satu- satu lah Dek, nanti pusing diuber-uber debt collector". Saya merasa tertohok, habis itu cuma bisa nyengir. "Selama mobil ini gak rewel, trus kebutuhan mobil besar bisa diakomodir dengan mobil kantorku, kenapa kita harus mikir yang muluk-muluk", lanjut mang...
Kehidupan tenang-jangan-goyang itu bisa didapat ketika kita berhenti memenuhi kebutuhan gaya hidup yang berlebih. Tujuan awal saya bekerja adalah mensupport suami supaya gak banting tulang amat a.k.a cari sampingan dan untuk membahagiakan orang sekitar terutama anak- anak. Kami harus terus saling mengingatkan, supaya tujuan tidak melenceng dari haluan. Godaan pasti ada, seiring dengan kenaikan penghasilan. Tapi, sekali lagi tabungan hakiki bukan sekedar menumpuk- numpuk harta dan membanggakannya.

Pelajaran kedua,
Berumah tangga butuh keikhlasan, siapapun pernah mengalami kesal, cemburu bahkan marah sama pasangannya. Selama 8 tahun saya belajar bagaimana mengendalikan emosi ketika kesal, cemburu atau marah. Saya juga mempelajari sifat pasangan, bagaimanapun laki-laki kadang lebih dominan, hanya karakter yang membedakan, ada yang suka ekspresif meledak- ledak, ada yang sedikit bicara, suami saya yang terakhir. Dulu, saya sulit menyampaikan kekecewaan, keburu nangis duluan. Berlatih dengan email, pesan singkat, sekarang lebih lugas menyampaikan langsung. Saya merasa kalau kita niatkan ini lillahi ta'ala, Allah pasti ridho, serahkan padaNya. Tidak ada sama sekali keinginan cek- cek ponsel atau ngirim pesan singkat setiap waktu, biar Allah yang jaga.

Pelajaran ketiga,
Menikah butuh komitmen, suka duka diajalani bersama. Delapan tahun lalu kita mulai dari nol, suami cuma bawa plasma tv dan mejanya. Kontrak rumah, tapi suka kezel, induk semang yang rumahnya berdekatan suka tidak senoh-noh masuk rumah mengomentari perabotan kita yang waktu itu cuma ranjang dan lemari :-) Tahun ke-dua memutuskan cari rumah, bulan ke-empat dapet rumah yang lokasinya berdekatan dengan rumah kontrakan. Pindahan diangkut, selebihnya masuk mobil mungil kita dan cukup. Setahun pertama, renovasi prioritas utama, termasuk teralis dan gordyn. Praktis uang habis untuk beli sofa and the gank. Kunjungan mertua kali keempat belum juga ada barang, akhirnya beliau minta diantar ke toko furniture untuk beli kursi betawi isi 4 hihihi.




Labels: ,

Thursday, October 06, 2016

Aydin Goes to Malang

Pertama kali ke Malang ketika habis nikah dengan perjalanan menggunakan kereta api, ditempuh sekitar 16 jam. Sempat bolak balik ke Malang, hanya sebatas tempat transit saja, bukan destinasi. Sampai suatu ketika, Malang jadi sangat terkenal karena tempat wisata yang makin beragam, saya ketahui sewaktu kunjungan dinas tahun lalu.
Bertepatan dengan undangan pernikahan keponakan suami, yang sudah dikabari sebulan sebelum acara, kami berdua sepakat untuk berangkat, sambil menyelam minum air itung- itung sekalian liburan. Seperti biasa, suami pesan tiket, saya pesan hotel.
Sebulan sebelum keberangkatan, cobaan banyak banget, mulai dari Gista demam yang ternyata batuk, disambung Aydin cacar...oh no. Ini bukan masalah penyakitnya, karena cacar itu sepaket kakak dan adik. Dengan waktu kurang lebih 3 minggu, saya harus berjiwa besar menunggu Gista tertular. Hiks, benar saja, seminggu sebelum berangkat Gista ketularan.  Suami panik, bukan soal kondisi anaknya, tapi lebih kepada hari berangkat, pas cacar kering, justru itulan fase penularannya. Strategi dibuat, semacam SOPlah buat saya dan suami, bagaimana mengkondisikan Gista supaya aman dari jangkauan orang banyak.
Tibalah saatnya kita berangkat, Jum'at saya dan suami masih ngantor, pesawat sengaja berangkat pukul 19.30 WIB. Saya pulang kantor, menyiapakan anak- anak, koper sudah dipacking sehari sebelumnya, kemudian jemput suami pas pukul 17.00 WIB. Oh iya, Gista saya 'bungkus' dengan rapi, sambil dikasih pesan sponsor malam sebelumnya agar dia tunduk pada SOP orang tuanya hehe.

Cacar kering masih kelihatan di dagu gak bisa disembunyikan.
Diluar dugaan, ibu mertua baru berangkat pukul 19.00 dari Jember, bisa dipastikan ketika kami sampai Surabaya beliau masih setengah perjalanan, kami memutuskan menggunakan taksi online. Iseng- iseng saya buka webnya estimasi biaya ke Malang sekitar 300ribuan, masuk akal. Namun ketika sampai bandara, order online sulit dilakukan, karena driver hampir semua keberatan untuk jemput ke bandara karena alasan non-teknis. Kami memutuskan menggunakan carteran, dengan harga nego sesuai estimasi biaya taksi. Akhirnya diperoleh harga deal 350rb ke Malang.
Sidoarjo - Malang 2 jam kurang, sampai di Malang pukul 24.00 anak- anak saya gantikan baju, mandi tisu basah kemudian tidur karena keesokan hari kita ke acara resepsi. Kami menginap di Hotel Maxxone sekitar 1 km menuju rumah empunya hajat, kurang dari 1km menuju gedung resepsi. Suami mengharapkan kita siap lebih pagi dari acara, karena mau ke rumahnya terlebih dahulu.

Masih capek
Ini setengan enam pagi lho
Kemudian setelah agak drama, karena anaklanang pengen makan popmi, sementara anakgadis ratu mbangkong (suka bangun siang), akhirnya kita siap di pukul 09.00 WIB. Langsung cus ke Blimbing, oh iya mertua dan adik ipar saya sampai hotel Pukul 02.00 WIB, ternyata hari itu pas Tanggal 1 Muharram atau 1 Suro, untuk kebiasaan masyarakat Jawa pada umumnya banyak sekali pengajian yang seperti 'pasar tumpah' di pantura sehingga menyebabkan kemacetan.
Sesampai di rumah penganten, kita numpang sarapan deh. Menunya rawon, menu mingguan dirumah, tapi yang ini dipastikan lebih enak dari rawon saya hehe. Keluarga Malang ini, sepupu suami dari ayah mertua, yang notabene keluarga Madura. Saya sudah gak canggung, walaupun ayah mertua sudah almarhum, paling tidak 2 tahun sekali kita ke Madura, atau malah kalau ada acara kumpul- kumpul seperti sekarang diusahakan hadir. beruntung keluarga suami tersebar seantero jawa, jadi saya bisa silaturahmi sambil liburan sekalian.
Ini Icha, ponakan saya. Akad sudah dilakukan Hari Rabu
Saya berjanji setelah ini serius mau buat family picture

Trip ke Malang kali ini saya dedikasikan untuk anaklanang, yang baru aja ulang tahun, karena itu saya pilih tujuan ke Musium Angkut, Resepsi mulai dari pukul 11.00 sampai pukul 13.00, suami ijin ke keluarga ke hotel pukul 12.30 WIB, ganti baju dan sholat kemudian cuss ke Batu. Malang - Batu ditempuh kurang dari 1 jam, dengan cuaca gerimis asoy, agak deg-degan juga saya. Ke Musium Angkut kunjungan kedua saya, jadi dengan kondisi hujan gerimis begini, terbayang banyak lokasi terbuka disana.
Alhamdulillah, sampai lokasi hujan reda, hanya sedikit berkabut. Suasana yang padat seperti yang dikhawatirkan, tidak terlalu menurut saya, sepanjang bisa menemukan spot untuk foto. Ini kira-kira pesan sponsor kami buat Aydin, "Nak, nanti kan di dalam banyak mobil- mobil bagus dan langka, foto  bareng ya, buat kenang- kenangan", begitu kira-kira. Pesan sponsor ini disampaikan bukan berlebihan karena anaklanang sudah mulai besar, agak susah kalau difoto.

Foto dulu

Nunggu beli tiket


Bapak suka lebay
Tuh kaaan
Kabut di Batu
Koleksi topeng
Nglaras
Pukul 17.00 WIB kami menyudahi jalan- jalan ini, bersiap kembali ke Malang, mampir ke Blimbing lagi. Keesokan harinya, ada jadwal meet up sama temen suami di lobi hotel. Setelah check out, kita mampir lagi ke Blimbing. Pukul 11.30 berangkat dari Malang ke Sidoarjo, mampir ke sepupu suami di Taman Pinang. Pukul 15.00 cus ke bandara. See you again, Malang.

Mager disuruh mandi karena tau bakal balik

Ada yang sedih mau pulang
Thanks for reading :*

Labels:

Monday, September 26, 2016

Bukan Rumah Contoh


Punya rumah rapih, itu semua impian setiap orang. Terutama ibu- ibu macam saya yang salah satu goalnya adalah rumah rapih, dan sayangnya gak pernah tercapai atau setidaknya untuk 1 jam pertama saja. Walaupun saya bekerja dari pagi sampai sore hari, setiap pagi sudut sudut gak pernah luput dari perhatian saya, pegang sapu habis nyiapin sarapan, padahal bersih- bersih sudah didelegasikan ke asisten, tapi baru datang sekitar pukul 8 pagi. Tapi rasanya kalau lantai ngeres itu insecure deh, entah kenapa semut jadi cepat datang ujung-ujungnya nanti pasti ada yang protes gatal digigit semut.
Rumah  rapih ala desainer juga lagi ngetren rupanya, banyak ditayangkan di acara tv ataupun social media seperti instagram, bahkan rumah yang interiornya oke diliput berbagai media. Siapa yang gak ngiler coba...
Padahal dibalik rumah rapih, ada ibu yang selalu teriak- teriak kalau lantai kotor dan mainan berantakan, ibu berasa capek sendiri jadinya. Rumah rapih terwujud jika hanya jika anak duduk manis di depan tv, dipegangin tablet, atau dipinjami hp. Tapi resiko terbesar yang akan saya alami ke depan akan jauh lebih mengkhawatirkan dari sekedar tenaga yang habis untuk mebereskan berkali- kali. Seorang sahabat bercerita keponakannya mengalami lemah motorik, di usia 7 tahun kadang masih suka terjatuh kalau berlari, sulit melalui titian balok dan gerakan fisik yang harusnya bisa dilakukan anak seusianya. Ketika dilakukan pemeriksaan, diketahui keterlambatan motorik disebabkan tidak terlatihnya kegiatan fisik, ini dikarenakan sehari- hari hanya dipegangi tablet oleh orang tuanya. Ada lagi sahabat yang lain, anaknya mengalami speech delay, karena lebih sering interaksi dengan gadget daripada dengan orang tuanya.
Gadget, apapun bentuknya sangat membantu orang tua untuk membujuk anak dari kerewelan, lari sana lari sini, atau kegiatan lain yang menyita orang tua ketika sedang kerepotan. Sekali dua kali membantu, tapi meyimpan potensi yang boleh dibilang berbahaya untuk masa depan mereka.
Jadi, masih ingin rumah selalu rapih jali? Toh, rumah kita bukan rumah contoh ya :)

Labels: ,