Wednesday, January 10, 2018

Update Report

Banyak sekali yang ingin saya tuangkan dalam tulisan kali ini karena kurang konsistennya saya untuk menulis. Sejak tadi pagi berniat meluangkan waktu sedikit menulis, habis apel pagi niat buka laptop langsung buka akun blogspot, kemarin-kemarin buka laptop langsung buka akun SIPKD :)

Puasa Medsos
Sudah beberapa bulan ini saya puasa medsos, tidak update status maupun foto. Pernah baca sebelumnya tentang penyakit 'ain? Berikut saya adopsi dari muslim.or.id penjelasannya,
Penyakit ‘ain adalah penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki ataupun takjub/kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena.
Ibnul Atsir rahimahullah berkata,
ﻳﻘﺎﻝ: ﺃﺻَﺎﺑَﺖ ﻓُﻼﻧﺎً ﻋﻴْﻦٌ ﺇﺫﺍ ﻧَﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻋَﺪُﻭّ ﺃﻭ ﺣَﺴُﻮﺩ ﻓﺄﺛَّﺮﺕْ ﻓﻴﻪ ﻓﻤَﺮِﺽ ﺑِﺴَﺒﺒﻬﺎ
Dikatakan bahwa Fulan terkena ‘ Ain , yaitu apa bila musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu pandangan itu mempengaruhinya hingga menyebabkannya jatuh sakit” 1.
Sekilas ini terkesan mengada-ada atau sulit diterima oleh akal, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa ‘ain adalah nyata dan ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺣﻖُُّ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺷﻲﺀ ﺳﺎﺑﻖ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻟﺴﺒﻘﺘﻪ ﺍﻟﻌﻴﻦ
Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya” 2.
Contoh kasus:
  • Foto anak yang lucu dan imut diposting di sosial media, kemudian bisa saja terkena ‘ain. Anak tersebut tiba-tiba sakit, nangis terus dan tidak berhenti, padahal sudah diperiksakan ke dokter dan tidak ada penyakit.
  • Bisa juga gejalanya tiba-tiba tidak mau menyusui sehingga kurus kering tanpa ada sebab penyakit.
Hal ini terjadi karena ada pandangan hasad kepada gambar itu atau pandangan takjub dan PENTING diketahui bahwa penyakit ‘ain bisa muncul meskipun mata pelakunya tidak berniat membahayakannya (ia takjub dan kagum).
Serem ya,  selain tidak update foto dan status, saya mulai memprivatisasi foto-foto anak saya. Tapi jangan berkecil hati, saya pikir status- status yang menginspirasi seperti resep masakan, aktivitas kreatif ataupun ajakan-ajakan positif yang membangun saya kira gak ada masalah ya. Atau misal posting piknik tapi bertujuan menginfokan itinerary tempat wisata, mungkin cara penulisannya saja yang perlu diperhatikan ya. Wallahu a'lam.

Menulis jurnal harian
Sejak SMP  saya terbiasa menulis jurnal, sampai suatu ketika maraknya media sosial, saya mulai berpaling, nyampah di wall orang, meninggalkan menulis jurnal, Tahun 2006 buat blog, karena saya sadar "curhat" berlebihan di wall orang is BIG NO apalagi semakin kesini status yang ada di wall tidak sefun status- status jaman dulu. Seringkali berbau SARA dan politik.
Sebenarnya beberapa bulan lalu,  saya sengaja jalan ke toko buku untuk mencari jurnal yang "lucu", tapi ternyata harga jurnal mahal ya :D Akhir tahun kemarin secara tidak sengaja menemukan di toko yang ke-jepang-jepangan harga 30 ribu, bentuknya lebih mirip pocket diary jadi lebih mudah dibawa kemanapun saya pergi, jadilah saya beli.
Saya putuskan untuk mengisi hal- hal yang kita syukuri pada hari ini, minggu ini atau bulan ini, saya kasih tagline 5SYUKUR, semacam gratitudelist  gitu. Tujuannya agar selalu besyukur dari hari ke hari, meskipun terkadang hari, minggu atau bulan yang kita lalui terasa berat. Dengan bersyukur, mudah-musahan saya terhindar dari sifat ujub, hasad dan kufur nikmat.

Keresahanku
Resah sama lingkungan sekitar lebih tepatnya. Mulai dari sulitnya cari teman makan keluar karena teman makan sangat mempengaruhi mood kita sepanjang hari, sulit cari teman makan yang membawa aura positif lebih tepatnya.
Makin sedikit yang bisa dijadikan panutan di kantor. Tampaknya saya harus sering throwback kesebelas tahun lalu kenapa saya melamar kerja disini supaya semangat itu tetap ada. Semangat kerja dengan berharap ridho Allah (ditambah suami dan anak- anak kalau sekarang), membahagiakan orang tua dan orang- orang disekeliling, jadi pribadi mandiri yang bermanfaat (tsaaah). Tujuan awalnya sederhana banget, dan semua sudah Alhamdulillah sudah diberikan Allah. Jadi kalau minta lebih buat apa atau buat siapa? Saya sedih karena sudah jarang role model yang menginspirasi saya belakangan ini. Semoga Allah senantiasa memberikan pertolongan dalam setiap langkah.




Monday, December 04, 2017

9th wedding anniversary : 5 love language



Seseorang yang usianya jauh diatas saya pernah bertanya, "Gimana coba, padahal orang diluar sana memuji-mujiku sementara yang dirumah (suami) gak pernah sekalipun muji, komentar aja bahkan jarang". Kadang saya suka mengingatkan diri sendiri, kalau ada yang bercerita berbau curhat, agar saya menahan diri untuk berkomentar alias jadi pendengar aja yang baik. Karena saya dan suami dengan orang yang curhat punya latar belakang yang berbeda, masa kecil atau alasan pas pertama kali memutuskan menikah dengan pasangan.
Ketika teman saya "curhat" gitu, pengen juga menimpali, sama deh, yang dirumah juga gitu, dalam konteks jarang memuji. Pernah mengalami perasaan serupa, beberapa tahun yang lalu, disaat banyak mendapati cerita-cerita suami "posesif" (menurut saya), yang sehari bisa berkali-kali telpon istrinya, hanya untuk menanyakan sudah makan belum, sampai ngecek posisi istrinya dimana. Suami saya gak gitu soalnya. Bahkan setelah hampir 5 tahun berkantor di Tangerang, bisa dihitung berapa kali kita makan siang bareng.
Di awal menikah, saya dan suami berada di umur yang gak muda lagi, sudah mengalami beberapa masa sulit. Jadi, ketika kami bertemu, sudah bersepakat untuk memulai segalanya dengan jujur apa adanya, berniat berbahagia selama- lamanya (ini gak pake ikrar ya, cuma modal akad doang ngomongnya). Ada masa penyesuaian, kita kenal dan menikah di tahun yang sama soalnya.
Sembilan tahun ini saya belajar banyak hal sehingga percakapan sama teman tadi, bukan masalah besar buat saya. Saya merasakan kasih sayang dengan cara yang berbeda.

Sebulan lalu, sempet baca review 5 Love Language, mencoba mengidentifikasi supaya kedepan lebih baik lagi, terutama saya sih, masih suka ngambek gak jelas :p

Gift Giving
Kami bukan pasangan yang suka memberi hadiah disetiap moment, karena saya percaya uang yang buat beli, sudah dikasih ke saya, kapan aja saya mau beli saya bisa, tinggal nanti saya ngaturnya gimana, kalau yang mahal banget ya, tunggu beberapa bulan alias nabung aja dulu.
Meskipun saya berkerja dan berdaya guna, sama sekali gak dikasih tanggung jawab yang banyak untuk menyokong keuangan keluarga, praktis uang saya hanya untuk kebutuhan saya pribadi dan vacancy anak-anak. Ada beberapa yang menilai, itu menghambat impian, misal seharusnya saya bisa cicil rumah dan mobil sekaligus, kali ini harus satu persatu. Kalau menurut kami sih, nurutin gitu mana ada habisnya ya. Terbukti hidup kami lebih tenang karena urusan bukan mengejar materi melulu ya, saya juga lebih hepi gak dikejar-kejar hutang.

Quality Time
Setelah baca buku Chapman, saya jadi memperhatikan kapan sih saya quality time sama suami, ternyata cuma di meja makan dan di kasur hehe. Praktis belum pernah pergi berdua aja, meskipun cuma nonton bioskop, gak tega sama anak-anak. Setelah anak- anak lumayan besar, saya sempatkan masak setiap hari, kecuali hayati lelah. Kenapa harus saya yang masak sih (pernah ada yang nanya soalnya :p). Pertama, saya hepi kalau masak, saya merasa kasih sayang saya tertransfer ke masakan yang saya masak. Harapan saya nanti, kalau anak- anak sudah besar dan gak tinggal sama saya, ada perasaan "kangen masakan ibu" :') Kedua, memastikan aja yang diamakan anak- anak terjamin kualitas gizi dan kebersihannya (rasa nomor sekeyan sodara) Ketiga, saya juga pengen dapet pahala kaleee :p

Word of Affirmation
Bagian ini hampir sulit teridentifikasi kalau indikatornya kata sayang dan cinta ya, kalau indikatornya sabar, suami amat jarang bentak- bentak apalagi berkata kasar. Suami marah dalam rangka bantuin marah sama anak-anak, gak pernah marahin saya lho dia. Kalau saya udah bawel banget, paling jawab " apa sih?!", saya mati kutu deh, melipir mata udah mendung, tapi baik lagi koq, tapi saya yang gantian ngambek 3 hari.

Act of service
Urusan domestik memang saya ratuya, tapi untuk beberapa hal suami mau subtitute. Contoh pas tahun lalu saya sibuk- sibuknya, anak sakit, suami yang bawa ke rumah sakit, saya nyusul kesana. Bantu banget. Lalu, pas saya diklat yang pulang seminggu sekali, anak UTS, suami juga mau bantu. Seiring anak-anak besar, me time saya nambah, contoh seminggu 2 kali zumba sama tahsin seminggu sekali (kadang bawa anak satunya), itu semua seijin doi, gak rewel dia soal itu, dengan catatan saya tau diri ya, yang dirumah gak kelaparan hehe

Physical Touch
Waini, salah satu koentji, setelah sembilan tahun, tanpa menunjukkan kemesraan berlebihan di ruang terbuka, koq bisa sih gak mellow kayak teman saya dicerita awal. Ternyata non- sexual touch kita tuh, cuma sekedar usapin punggung, sama senderan punggung, gitu aja udah hepi hehe. Aslinya saya nyari-nyari sih, soalnya semua sexual touch, and it's charged me for a week.

Setiap pasangan punya love language berbeda, yang penting teridentifikasi aja, jadi meskipun pasangan gak romantis, gak perlu kecil hati, mungkin dia mencintaimu dalam cara yang lain.







Tuesday, October 10, 2017

Caring and Sharing

Seminggu ini berat buat saya, lebih tepatnya dua minggu belakangan. Untungnya akhir bulan kemarin nyempetin liburan bareng gangs, perdana lho ini (diposting nanti ya). Jadi ceritanya soal kerjaan kantor nih, kerjaan ini sebenernya hampir setiap tahun saya kerjain, acara sosialisasi, namun kali ini karena saya pinyah ke tempat yang berbeda, tentunya audience-nya pun berbeda, sebut aja saya nyubie.
Tahun-tahun sebelumnya acara seperti ini dilakukan di awal-awal tahun, karena sudah terpola, dan daftar undangan sudah saya pegang lah, tinggal mikir konsep dan tema apa supaya meraka gak bosan, dan bersemangat hadir.
Tahun ini, mundur karena saya harus diklat 3 bulan, selain itu sayapun belum tune-in baik itu konsep, peserta, dan dan narasumbernya, komplit lah pokoknya. Dua bulan saya observasi sana-sini buat dapet konsep yang pas, tema sudah dapet, terkait undang-undang yang baru, rilis awal tahun ini. Namun, pembicara yang akan saya undang saya maksimalkan menjadi 4 orang, observasi dilakukan supaya dapat judul yang sesuai dengan tema namun tetap sejalan dengan tren masalah yang ada sekarang. Selain itu, kegiatan dilakukan di lingkungan kantor yang ruangan terbatas, sempat mundur satu kali karena tempat "tergusur" sama pimpinan tertinggi, dipakai beliau.
Masalah bukan pada  konsep, narsum atau tempat. Tapi lebih kepada koordinasi dan birokrasi yang maaf "menyebalkan", saya mengurut dada.
Sebagai manusia biasa, saya kecewa sih, tapi bingung mau marah kemana...Tapi sebagai manusia yang bahagia (ciyee) saya gak boleh menyerah, mudahan-mudahan ini saya jadikan pengalaman untuk lebih fokus dan "bawel" supaya acara lebih sempurna.

Tapi Gusti Allah mboten sare, tadi pagi Bapak saya kirim pesan kalau telpon rumahnya rusak dari Minggu. Bapak saya ini sudah pensiun, langkahnya gak sepanjang dulu. Tumpuannya hanya ada pada anak perempuannya ini :') Saya sampaikan kalau saya akan menghubungi telkom, "bapak harap bersabar ya", kira- kira gitu deh kata saya.
Saya telpon telkom, Alhamdulillah responnya positif, teknisi datang dalam 2-3 jam setelah pengaduan. Alhasil telpon kembali bisa digunakan. Bapak saya kasih kabar, dengan menggunakan telpon rumah, suaranya hepi banget. Diatara 2-3 jam tadi, bapak saya hampir beli pesawat telpon baru, karena khawatir masalah dari pesawat telponnya. Mendengar suara bapak hepi, saya jadi hepi juga. Padahal saya cuma telpon sambil duduk manis di kubikel, dapet sms konfirmasi, saya forward ke bapak, 2-3 jam dapet kabar teknisi sudah dateng. It's easy for me, sama sekali tidak membuat repot. And makes him happy...that's the point.
Saya pernah sharing sama adik-adik, bapak dan ibu kita cuma butuh perhatian, okelah kado berbentuk hadiah atau sedikit uang juga harus kita sisihkan untuk mereka. Tapi lebih utama adalah, ketika mereka butuh, kapan aja dimana aja kita harus siap, jang bilang "nanti ya" atau "coba deh minta tolong ke...", jangan deh...jangan...
Satu lagi, ketika mereka hepi, kita pasti hepi, karena itulah sejatinya hubungan orang tua dan anak...



Labels: ,

Tuesday, September 19, 2017

Aydin turns 8

Kehadiran Aydin 8 tahun lalu membuat saya berubah haluan, terlahir sebagai anak yang aktif lumayan 'menenggelamkan' saya dari dunia luar (pekerjaan dan cita cita). Aydin bukan anak yang tipe yang tidurnya berjam-jam disiang hari, dan itu terjadi hingga sekarang, pulang sekolah hampir tidak pernah tidur siang, kecuali dipaksa dan diberikan "janji manis". Usia10 bulan sudah bisa rambatan, usia 12 bulan langsung lari, karena dirawat langsung oleh ibu saya, praktis membuat saya tidak bisa melepas secara penuh baik fisik ataupun pikiran, mengingat usia ibu saya kan tidak muda lagi. Saya kerap pulang lebih awal dengan mengerjakan pekerjaan dengan efisien setiap harinya, nyaris tidak terpikir untuk me-time diluar waktu rumah dan kantor. Di usia 10 bulan, mulai perlahan- lahan berbagi pengasuhan dengan ART yang sudah dipercaya merawat rumah kami. Karena ibu saya medominasi dalam perawatan selama saya ke kantor, pola asuh dan kasih sayang tidak perlu dikhawatirkan, persis bagaimana ibu saya merawat kami dulu anak- anaknya.
Seperti anak- anak pada umumnya, tak jarang pulang kantor ibu saya bercerita tingkah Aydin, dari mulai lucu nggemesin sampai tingkahnya yang aktif membuat ibu saya kewalahan. Yang gak saya lupa dari Aydin, dia penganut paham Mbah Surip, sampai usia 3 tahun meskipun kemana- mana dengan berlari, tapi dia sangat suka digendong, gak suka di stroller. Saya sampai beli bermacam- macam gendongan yang bisa membuatnya nyaman, namun dari semua gendongan favoritnya adalah Jarik alias Cukin hehehe gak keren banget kalau ke Mall.
Sampai dimana waktunya Aydin bersekolah, sebenarnya sekolah bukan hal yang asing buat dia. Ibu saya sebenarnya punya profesi lain, yaitu guru PAUD. Dari bayi hingga dia mulai diasuh oleh ART kami, Aydin selalu dibawa ke PAUD , tempat ibu saya mengajar, selalu ya selalu...Namun realita berkata lain, seminggu di hari pertama TK diisi dengan drama sedih dikaca kelas, selalu berlinang air mata ketika saya harus menunggu diluar arena belajar. Minggu kedua, tanpa air mata tapi masih berkaca- kaca. Minggu ketiga lulus dengan sempurna, dia mulai menemukan dunia baru yang menyenangkan, sayapun bahagia.
Ada cerita lucu  dari guru TKnya, setiap hari ada ritual mencuci tangan sebelum makan. Menurut penuturan gurunya, setelah siswa terkahir  yang mencuci tangan, Aydin selalu memastikan kalau kran yang dipakai temannya tadi sudah benar-benar mati. Adi saya (tantenya) pernah menjemput ke sekolah melihatnya sedang merunduk-runduk ke bawah washtafel, ternyata setelah pulang ditanya oleh tantenya bahwa washtafelnya bocor, jadi ada yang menetes....oalah...he is a unique boy i guess
Aydin tumbuh besar dengan karakter cenderung lebih tenang, penyayang dan berempati namun tetap masih suka sedihan (baca cengeng).
Ada cerita menyentuh beberapa hari kemarin, kami dapat oleh- oleh pulang haji dari kolega, salah satunya air zam- zam di botol kecil. Di botolnya ada tata cara minum air zam-zam, dia sudah paham sebelumnya, mengahadap kiblat-duduk-berdoa. Setelah minum, dia membisikkan saya doa yang dimohon, "Ya Allah berikan Aydin kepintaran dan kesehatan". Ah...saya selalu berkaca kaca kalau mengingat ini. Menuliskan sederet do'a saja mata saya jadi basah. Saya bangga padanya...
Aydin, semoga Allah selalu merahmatimu dengan kasih sayangNya, memberikan pertolongan pada setiap langkah kakimu, membimbingmu dalam mengejar cita-cita...

Labels: ,

Tuesday, August 22, 2017

Beasiswa S2

Sudah dua kali hati saya bergejolak gara- gara tawaran beasiswa, dua- duanya di UI, dari Magister Ekonomi. Ternyata semua tugas belajar harus linier, latar belakang S1 saya teknik, S2 harus ambil teknik juga.

Kenepa eh kenapa tiba-tiba kepikiran S2 setelah sekian lama..
Dulu...dulu banget saya sebelum nikah, cita- sita saya setinggi langit lho...pengen ini diumur sekian..pengen itu diumur segitu..Pas nikah tepatnya pas punya anak, luntur deh semua cita- cita egosentris saya (lebay). Gimana gak coba, liat muka imutnya Aydin aja bikin males ngantor, nyalon apalagi mikirin karir, kuliah dan sebagainya.
Setelah anak- anak bisa main sendiri mulai tidak sepenuhnya bergantung sama saya, me-time saya perlahan- lahan mulai kembali. Apalagi setelah Diklat PIM IV kemarin, meskipun tergopoh-gopoh, tapi paling tidak salah satu trial ninggal anak- anak dan berhasil. Ditambah selama diklat, saya serasa di brainstrorming sama para widyaiswara, bahwa melakukan segala sesuatu harus sesuai minta dan passion, basi sih emang ya, kemana aja saya ini. Gak juga, dari dulu saya selalu merasa iri dengan orang- orang yang bekerja sesuai dengan hobi mereka. Selagi masih bisa dikoreksi, mengapa tidak kita mulai dari sekarang.

Selama saya diklat, saya seperti menemukan diri saya sendiri (lebay), karena ada beberapa tes psikologis yang diikuti, dan hasilnya koq kayak bener gitu..Rupanya, minat saya ini bertemu dengan orang banyak, berinteraksi, dinamis tidak monoton, tapi juga sensitif mudah terhanyut apalagi sama yang sedih- sedih (a.k.a cengeng) :)
Saya pengen jadi widyaiswara, modalnya S2 haha

Sepulang diklat, ada edaran dari Sekretaris Daerah, tawaran beasiswa, salah satunya di UI. Kenapa sih UI..
Jadi gini, sekalipun saya punya impian dan pernah berhasill ninggalin anak- anak pas diklat, tetap saya gak sanggup pisah sama anak- anak imut itu termasuk anak mbarep. UI merupakan alternatif pilihan, selain dekat, jujur aja dari dulu pengen punya jaket kuning itu hehe.

Singkat cerita, saya kirim email ke alamat yang ada di edaran, namun sampai sekarang alhamdulillah gak ada jawaban, setelah sukses bikin hati saya acak-acakan 3 mingguan haha..Tawaran kedua ini, ada 3 opsi, UI, UGM dan ITB. Otomatis UI jadi pilihan, tanpa pikir panjang saya langsung menghadap ke kepegawaian, dapet jawaban langsung meskipun pahit hehe.

Alhasil saya kembalikan semua ke Allah pemilik rencana, meskipun ijin sudah dikantong, tapi mungkin Allah punya rencana lain, impian boleh tetap ada, tapi dunia nyata tak kalah menarik apalagi disamping anak-anak yang imut itu dan anak mbarep tentu saja..

Labels: ,

Monday, August 14, 2017

Skin Routine

Bismillahirrahmanirrahiim,
Assalamu alaikum..
Tiga tahun belakangan ini mulai intensif dengan perawatan kulit khususnya muka, seiring muncul freckless dibawah mata. Pada dasarnya muka saya gak terlalu bermasalah, normal cenderung kering dibeberapa bagian malah. Itu yang membuat saya selama ini santai bajay aja merawat kulit muka. Tiga tahun lalu sempat timbul jerawat di dagu dan dahi, mungkin karena beban kerja yang lumayan sehingga memicu stress. Kejadian ini mau tidak mau mengharuskan saya konsultasi ke dokter spesialis kulit, alhamdulillah jerawat berangsur- angsur menghilang, kemuadian saya stop perawatan dokter (cuma 3 bulan). Rupanya ada rutinitas kulit yang salah selama ini, saya pikir membersihkan muka cukup dengan sabun, kesat dan selesai, ternyata itu belum mampu membersihkan segala kotoran yang menempel seharian apalagi aktivitas saya kebanyan outdoor. Saya mulai mencari bagaimana sih sebenarnya merawat kulit muka yang benar, selama tiga tahun belakangan jujur saja saya sudah beberapa kali ganti produk dan metode. Namun yang metode dan produk terakhir ini saya kira paling pas, berikut saya share ya...

Sepulang kantor saya menyempatkan diri membersihkan muka dengan pure olive oil dari Wardah harga 20 ribu saja. Dari yang pernah saya baca, pembersih berbahan dasar oil paling "mujarab" mengangkat kotoran daripada lotion. Awalnya saya mengaplikasikan pakai kapas lalu saya oleskan seperti layaknya mengoleskan lotion pembersih. Namun, saudara- saudara, itu kurang tepat ternyata, selain pliket bikin muka gak nyaman pastinya kurang bersih. Cara lain yang lebih efektif adalah ambil sedikit olive oil ke tangan, usapkan ke seluruh wajah sambil pijat pijat merata. Setelah itu, ambil washlap yang sudah direndam air hangat, dusapkan ke muka sambil ditempelkan ala spa beberapa menit. Usapkan pelan-pelan kotoran sudah terangkat, gunakan handuk kering untuk mengelap muka, hasilnya muka tidak pliket sebaliknya cenderung kenyal dan lembab. Lakukan 2-3 kali jika perlu.
Gambar diambil dari wardahbeauty.com


Setelah itu saya gunakan cleanser, saya pakai Cetaphil Cleanser, tuangkan pada tangan yang kering kemudian usapkan ke muka tanpa perlu diberi air atau muka yang dibasahi terlebih dahulu.  Usapkan merata sambil dipijit-pijit. Basuh dengan air, keringkan. Lakukan 2-3 kali jika perlu.
Gambar dari cetaphil.id


Setelah muka bersih, jangan lupa beri toner untuk menetralisir muka. Pada saat dibersihkan, muka sedikit "stress", toner diperlukan untuk memberikan menetralkan kulit kembali ke normal. Saya pakai Napca moisture mist dari Nuskin, sisa- sisa perjuangan dulu sayang dibuang kemungkinan gak akan repurchase :)
NaPCA Nuskin

Malam harinya saya lanjut dengan whitening clear lotion kemudian lanjut FTE dan Gen Spot semua dari SKII. Bagian ini pilihan ya sangat dapat diganti produk lain, karena saya memilih untuk tidak melaser freckless saya namun tetap saya "usahakan" menguranginya. 
Gambar diambil dari sk-ii.com

Gambar diambil dari sk-ii.com
Gambar diambil dari sk-ii.com
Pagi harinya saya hanya membersihkan dengan cleanser, toner kemudian lanjut dengan Pelembab bertabir surya, saya pakai Skin Aqua SPF 50++. Pelembab ini banyak direkomendasikan beauty blogger, saya sendiri sudah repurchase, artinya ini kali kedua saya pakai pelembab ini. Dingin, tidak hangat seperti sunblock pada umumnya, dan tidak menimbulkan breakout di muka.


Kuncinya merawat muka ada di cara membersihkannya, apabila sudah baik dan benar, krim apapun yang dioleskan akan meresap lebih sempurna. 
Perawatan malam bisa diganti dengan produk yang sesuai, intinya pelembab aja, serum bisa sebelum pelembab. Dari yang pernah saya baca, krim dioleskan berdasarkan kekentalan, mulai dari yang ringan dulu. 
Demikian ulasan saya semoga bermanfaat ya...

Labels:

Friday, May 12, 2017

Cerita Hari Ini

Mungkin saya PMS, semua terasa lebay soalnya...

Cerita Pertama,
Soal grup orang tua murid, grup sementara dibentuk oleh salah seorang mama yang berniat baik untuk memberikan bingkisan untuk 2 guru di kelas, hampir semua menyatakan setuju, diskusi panjang dimulai sejak pagi, dipenghujung malam tiba- tiba ada seorang mama yang kontra dengan alasan yang berubah- ubah alias gak konsisten. Mulai dari larangan memberikan kado secara pribadi tanpa melalui komite, kemudian dia setuju tapi nominal berkurang, tapi ditentang oleh mama- mama lain karena nominal terlalu kecil. Setelah itu alasan berganti dengan memberikan secara pribadi silakan, errr. Saya kenal dia sejak jaman di TK, selama ini suaminya atau ayah teman aydin yang sering kumpul dengan kami mama- mama TK. Mama yang satu ini juga pernah menginterup ketika fieldtrip TK yang pada waktu itu ke Lembang. Yang lucu, setelah menginterup selalu bersayap dengan embel-embel pengalaman dia selama ini sebagai pegawai yang sering bolak balik bertgas ke daerang tersebut, rawan macet, kalau soal kado kata bersayapnya bukan soal nominal tapi bla bla bla..Err koq masih ada orang yang seperti itu ya, saya biasanya kehabisan energi untuk argumentasi hal-hal yang dianggap tidak penting, tapi saya tanggapi juga sih. Karena mempersulit tujuan baik itu BIG NO buat saya. Kalau bisa gampang kenapa dibuat susah sih. Mungkin saya PMS.

Cerita Kedua,
Status orang-orang di timeline medsos, seolah-olah paling benar dibungkus secara drama membela orang yang jelas- jelas menghina agama yang diyakininya. Saya maklum ketika yang bicara itu muatannya :

  • keunggulan personal orang itu, sekasian itu ya warga jakarta selama ini, tiba-tiba menjadi peduli sama kotanya, kebhinnekaan jadi tren.
  • yang membela dilluar keyakinan dari yang dihina, itu bebas banget menurut saya, hidayah datang pada orang yang terpilih.
Yang sedih tuh, yang dihina agamanya sendiri, ada yang salah? Mungkin saya PMS

Cerita Ketiga,
Soal kerjaan, ada salah seorang staf non PNS, yang dinilai kurang disiplin. Staf itu sebenarnya mantan staf saya di seksi lama, kepala seksi yang baru keberatan dengan perilaku staf ini, jarang masuk. Herannya ketika namanya ada disalah satu tim saya (atas persetujuan pimpinan lho itu). Dia rajin banget, mungkin kasi yang lama kesel kali. Kejadian itu berlangsung selama saya diklat. Singkatnya sepulang diklat saya dapat laporan negatif tentang perilaku dia. Hari ini ada brifing kasi, yang dibahas adalah tentang dia, entah kenapa saya merasa solah- olah perilaku dia menjadi tanggung jawab saya. Saya sampaikan, bahwa masalah ini murni masalah si staf ini sama bosnya, baru ini lho saya terlihat emosional, saya menyampaikan dengan nada bergetar. Akhirnya pimpinan saya mengambil sikap untuk mengembalikan pembinaan ke kasinya, tidak ada pilihan pindah seksi, yang ada hanya pilihan stay or leave.

Kesimpulannya membiarkan energi negatif menaungi kita itu tidak seharusnya saya lakukan. Habis energi seharian, mood saya hilang, males beraktivas, hawanya pengen curhat kemana-mana. Tapi kadang menentukan sikap juga penting, paling tidak berlaku untuk orang-orang yang terlalu mendominasi, pengen bener sendiri dan tidak menerima kritikan.
Ah mungkin saya PMS...

Labels: